Sunyi yang Berdenyut adalah kisah tentang diam yang tidak pernah benar-benar kosong. Di antara jeda napas, rasa sakit, dan hari-hari yang perlahan memudar, ada denyut kecil yang tetap setia—menyebutkan bahwa hidup masih ada, meski dalam bentuk yang berbeda.
Buku ini bukan tentang menjadi kuat setiap saat, melainkan tentang belajar bertahan dengan lembut. Tentang menerima luka tanpa kehilangan harapan. Tentang berjalan pelan, ketika dunia terasa terlalu cepat.
Melalui kata-kata yang jujur dan hening yang berbicara, Sunyi yang Berdenyut mengajak kita menemukan makna di tempat yang sering kita hindari—di dalam sunyi itu sendiri. Karena terkadang, justru di sanalah Tuhan berbisik paling dekat.
Riana Trish adalah seorang penulis yang menulis dari ruang paling sunyi dalam hidupnya—ruang yang dipenuhi pergulatan, kehilangan, dan pencarian makna. Sebagai seorang pasien kanker otak paliatif, ia tidak hanya belajar tentang batas, tetapi juga tentang harapan yang tetap hidup di tengah keterbatasan.
Melalui tulisannya, Riana menghadirkan kejujuran yang lembut dan refleksi yang dalam, mengajak pembaca untuk berani merasakan, menerima, dan menemukan Tuhan bahkan di saat-saat paling hening. Sunyi yang Berdenyut
adalah bagian dari perjalanan itu—sebuah kesaksian bahwa dalam diam pun, hidup masih berdenyut.
“Paliatif bukan tentang menyerah, melainkan tentang hidup sebaik mungkin hari ini.”






